Selamat datang di doumy's blog, semoga isi pada blog ini bermanfaat bagi anda. Terimakasih! ||| welcome to doumy's blog, i hope contents in this blog usefull for you. Thanks! -----Menggagas Kesadaran Beridiologi Islam----- Selamat datang di doumy's blog, semoga isi pada blog ini bermanfaat bagi anda. Terimakasih! ||| welcome to doumy's blog, i hope contents in this blog usefull for you. Thanks!

Senin, 14 Juli 2008

Pemuda Dan Kebangkitan

Pemuda dan kebangkitan merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Layaknya dua sisi mata uang, yang tidak bernilai jika salah satunya tidak ada. Itulah pemuda dan kebangkitan yang telah menguak cakrawala berpikir umat manusia menuju perubahan.

Semua orang pasti setuju jika masa yang disebut dengan pemuda ini adalah masa subur untuk menghasilkan sebuah perubahan. Karena perubahan tidak akan mampu digagas oleh anak balita, ataupun orang yang telah tua renta. Masa anak-anak merupakan masa yang belum mencapai kematangan, baik berpikir ataupun mentalnya. Sedangkan masa tua adalah saat kemampuan dan eksistensi manusia itu mulai menurun.

Dalam lintasan sejarah dunia, berbagai perubahan yang terjadi digagas oleh para pemuda. Revolusi Perancis yang menumbangkan kekuasaan monarki digerakkan oleh pemuda. Kemenagan komunis di Rusia oleh pengikut Lenin dan Stalin yang kebanyakan dari mereka adalah pemuda.
Di Indonesia, yang berhasil meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada 21 Mei 1998 lalu adalah mahasiswa yang notabenenya pemuda. Bung Karno, melalui lisannya mengatakan, “Berikanlah saya sepuluh orang saja pemuda, maka saya akan mengguncangkan dunia ini”. Dan berbagai sejarah perubahan dan kebangkitan lainnya yang merupakan wujud peran para pemuda.
Tidak cukup sampai di situ, perjuangan dakwah Islam yang telah mengeluarkan manusia dari kenistaan jahiliyah menuju kondisi islamiyah yang menempatkan manusia sesuai fitrahnya, juga diusung oleh para pemuda. Rasulullah Saw. sendiri adalah seorang pemuda yang diangkat menjadi rasul saat berumur 40 tahun. Para pengikut Rasulullah Saw. seperti Abdullah bin Mas’ud yang berusia 14 tahun, Sa’ad bin Abi Waqqash berusia 17 tahun, Zaid bin Haritsah berusia 20 tahun, Bilal yang saat itu berusia 30 tahun, Abu Bakar Ash Siddiq berusia 37 tahun dan masih banyak pemuda padang pasir lainnya yang senantiasa menopang dakwah Islam melaui perjuangan yang getir. Melalui darah-darah segar inilah Islam ditegakkan sebagai sebuah mabda (ideologi) dengan membentuk sebuah intitusi pertama di Madinah al-Munawarrah. Panji-panji Islam bergema hampir ke seluruh penjuru dunia, memberikan rahmat bagi sekalian alam.
Kebangkitan yang disebabkan oleh dakwah Islam inilah yang harus kita jadikan rujukan untuk menggapai sebuah kebangkitan yang hakiki. Kebangkitan yang benar-benar membawa kepada keridhaan Allah Swt. sebagai pencipta sekaligus pengatur segala sesuatu.

Peran Pemuda Mewujudkan Kebangkitan Islam
Peran pemuda untuk kebangkitan Umat Islam menjadi sesuatu yang urgensinya perlu diperhatikan. Sadar atau tidak saat ini Islam sedang tidak berada pada posisi khairah ummah (umat terbaik) yang disebutkan dalam firman-Nya yang mulia itu. Di seluruh pelosok bumi umat Islam ditindas, diperolok dan dihinakan. Bahkan yang sangat menyakitkan adalah penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW yang beberapa waktu lalu kembali dikeluarkan oleh media masa Denmark. Apakah kondisi seperti ini akan terus kita diami tanpa ada upaya yang dilakukan? Tentu kita serentak menjawab tidak.
Dalam hal ini peran pemuda sangatlah penting untuk merubah kondisi kritis yang dialami umat Islam. Para pemuda haruslah sadar bahwa perubahan tidak akan datang tanpa adanya pemikiran yang mendasar tentang hidup, alam semesta, dan manusia itu sendiri serta hubungannya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan dunia. Karena pemikiran inilah yang dapat membentuk pemahaman terhadap segala sesuatu termasuk kebangkitan. Pemahaman kebangkitan akan benar ketika pemikiran mendasar tadi didasari pada sesuatu yang diturunkan oleh Yang Maha Benar yaitu Allah Swt..
Sehingga, pemecahan pemikiran mendasar tersebut menhantarkan kepada aqidah yang haq (benar) sekaligus menjadi dasar untuk menghasilkan pemikiran cabang tentang prilaku manusia serta peraturan-peraturan hidup lainnya. Ketika pemahaman ini telah mengkristal di benak para pemuda, proses kebangkitan untuk memunculkan kembali izzah (kemuliaan) Islam akan terealisasi dalam kehidupannya. Maka akan lahir generasi-generasi layaknya para Sahabat yang senantiasa mencurahkan harta, tenaga bahkan nyawanya untuk menegakkan kalimat Syahadat sehingga membumi menjadi sebuah peradaban mulia yang pernah ada.
Keinginan dan semangat yang kuat dari para pemuda untuk mengembalikan Islam sebagai way of life (jalan hidup) menjadi hal yang sangat diharapkan ketika krisis multi dimensi melanda umat ini terutama di daerah NAD. Semangat yang kuat untuk menerapkan Islam kaffah di tengah masyarakat menjadi langkah awal yang perlu disokong untuk selanjutnya menjadi sebuah kekuatan mewujudkan kebangkitan. Tinggal lagi, apakah para pemuda siap untuk menyambut hal tersebut? Pertanyaan seperti ini wajar terungkap ketika fakta kekinian berbicara bahwa pemuda telah terkontaminasi oleh pemikiran dan budaya asing. Karena ujung tombak kebangkitan yang diharapkan seperti yang telah terpapar di awal tadi ada pada para generasi muda.
Berbagai prilaku yang dilakukan pemuda saat ini sangatlah memilukan. Betapa tidak, tindakan kriminal, pelanggaran Syariat dan kebodohan terjadi pada pemuda. Adegan mesum, pemerkosaan, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tontonan porno dan berbagai pelanggaran syariat lainnya merebak di kalangan pemuda di Aceh. Sehingga memenuhi halaman-halaman media massa dan cetak setiap harinya.
Jika kondisi tersebut terus bergulir di tengah-tengah penerapan Syariat Islam di NAD. Bisa jadi, momen ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang membenci Islam untuk mengkambinghitamkan Syariat Islam. Seolah-olah Syariat Islam tidak memiliki relevansi untuk diberlakukan di zaman sekarang. Padahal, permasalahannya terletak pada tingkat kekaffahan dan cakupan penerapannya. Ketika dilaksanakan secara parsial dan cakupan penerapan secara lokal, wajar kasus demi kasus bermunculan karena memang aturan Islam diturunkan satu paket yang tak bisa dipisahkan. Jadi, kesalahan bukan terletak pada syariatnya, melainkan pada aspek penerapannya.
Masih berkaitan dengan fakta kekinian pemuda, budaya hedonis yang membuat remaja menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak beguna seperti budaya nongkrong di kafe-kafe, berpacaran dan behura-hura ke sana kemari seolah menjadi kebiasaan yang tidak aneh lagi di tengah masyarakat saat ini. Semuanya dianggap hal yang wajar dilakukan para pemuda kita.
Inilah hegemoni asing yang sedang mewujudkan eksistensinya di daerah ini melalui pemikiran dan budaya yang telah terealisasi secara jelas dalam kehidupan generasi muda. Para “mubaligh” kafir telah berhasil menyampaikan ide-ide kufurnya di kalangan generasi penerus yang kelak mereka inilah yang menjadi pemimpin. Islam tidak lagi mejadi landasan untuk bertingkah laku, Syariat Islam hanya dijadikan simbolis semata bahkan Islam merasa terasing saat ini. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda : “Islam muncul dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang terasing tersebut”. (HR. Muslim).
Sudah jelas bahwa kerusakan demi kerusakan yang disebabkan oleh pengaruh asing akan segara menghantam para pemuda. Pada akhirnya, perlahan pemahaman Islam mulai jauh dari umat, sehingga kejumudan berpikir akan muncul. Sebuah tantangan yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita hadapi. Karena kita dihadapkan dengan sebuah ideologi yang sedang berkuasa saat ini yaitu Kapitalisme.
Oleh sebab itu, hanya Islamlah sebagai sebuah solusi tunggal untuk membendungnya. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mencapai cita-cita kebangkitan tersebut. Pertama, pembinaan terhadap umat terutama generasi muda tentang pemahaman Islam yang shahih (benar), sehingga Islam menjadi landasan berpikirnya. Hal ini akan mendorong kesadaran untuk mewujudkan Islam secara real dalam kehidupan.
Kedua, setelah kesadaran itu ada pasti akan muncul pula dorongan untuk memperjuangkannya. Namun, dalam perjuangannya tidak dapat dilakukan seorang diri, harus ada kelompok atau jama’ah yang konsekuen dalam berjuang. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersama-sama sahabat berdakwah secara berjama’ah.
Ketiga, melalui kelompok tadi, ide-ide kebangkitan Islam disosialisasikan ke tengah-tengah masyarakat, sehingga terjadi interaksi yang mendidik umat untuk senantiasa menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan bertingkah laku, sebagai konsekuensi keimanannya.
Keempat, penerapan Islam secara totalitas di tengah-tengah masyarakat melalui sebuah konstitusi. Inilah kebangkitan yang yang harus segera diwujudkan oleh para pemuda kita.
Untuk itu, membina generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami harus sesegera mungkin dilakukan. Melalui pendidikan, pengkristalan kembali hal tersebut dapat dilakukan. Apalagi jika telah mendapat dukungan melalui qanun-qanun yang ada atau yang sedang dirancang. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk menghindar dari pendidikan yang islami karena Islam terbukti mampu menghasilkan pemuda-pemuda brilian untuk mewujudkan kebangkitan yang hakiki. Sebuah keyakinan yang kuat, melalui pemuda-pemuda yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam berusaha, insya Allah kebangkitan itu akan tiba. Wallahu a’lam.